Open top menu
Sabtu, 30 Juni 2018
no image


HARGA SEBUAH KEJUJURAN
Rima hanya bisa berdiam diri dan menelan ludah waktu melihat Euis berbuat curang. Teman sebangkunya itu diam-diam menghapus jawaban yang salah di kertas ulangannya. Lantas menggantinya dengan jawaban benar yang ditulis Bu Aisyah di papan tulis. Bu Aisyah, wali kelas 5A, sangat mempercayai murid-muridnya. Setiap kali selesai ulangan, murid-murid diajak memeriksa hasil kerja mereka sendiri. Menurut Bu Aisyah, ini untuk membantu agar murid-murid bisa lekas mengetahui di mana letak kesalahan mereka. Setelah kertas ulangan itu selesai dijumlahkan berapa yang salah dan berapa yang benar, semuanya ditumpuk di meja guru. Bu Aisyah pun memeriksanya dengan cepat. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya. Matanya berbinar, mendapati bahwa kertas ulangan murid-muridnya tidak banyak memuat tanda silang. Kertas ulangan Euis bahkan bersih, tanpa tanda silang sama sekali. “Ibu senang melihat cara belajar kalian di kelas lima ini. Secara bertahap, kalian mulai mengalami peningkatan....” Kalimat bu guru belum selesai, tapi anak-anak sudah menyambutnya dengan tepuk tangan tanda gembira. “Yeeaayy!” seru mereka. Setelah kelas kembali tenang, Bu Aisyah pun melanjutkan. “Seperti teman kalian, Euis , yang Ibu lihat semua jawabannya benar. Nah, untuk selanjutnya, kalian harus lebih giat lagi belajar.” Anak-anak pun memandang ke arah Euis dengan kagum. Sementara itu, dari bangkunya yang tidak jauh dari bangku Euis, seorang anak bernama Mimi tampak diam termangu. Leni tadi juga sempat melihat bahwa Euis  berbuat curang. Tapi mulutnya terkunci rapat, tidak berani menegur. Dia juga melihat bahwa Rima pun mengetahui kecurangan Euis.  Mimi berharap Bu Aisyah mengetahui hal ini, lantas menegur Euis . Sayang sekali, tadi gurunya itu sedang sibuk  memasukkan nilai ulangan IPA murid-murid ke buku besar. Sejak dulu Mimi sangat mengagumi Euis . Temannya itu cantik, ramah dan datang dari keluarga kaya yang sangat  dihormati di daerah mereka. Keluarga Euis juga terkenal sangat baik dan pemurah. mimi ingat benar, betapa sedih dan bingung keluarganya, tiga bulan yang lalu. Saat itu, Bapaknya di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Ayah Euis menyelamatkan keluarga mereka dari kesulitan ekonomi. Bapak diberi pekerjaan baru, menjadi sopir pribadi Pak Darma, Ayahnya Euis. “Mengapa Rima tidak menegur euis, ya?”pikir Mimi heran. Tak lama kemudian, sesuatu terlintas di benaknya. “Hm, mungkin karena itu,” bisiknya kepada diri sendiri. Mimi menduga, Rima segan menegur teman sebangkunya itu, karena merasa berhutang budi kepada keluarga Euis. Ia pernah mendengar cerita dari Bapaknya, Pak Darma rutin memberikan santunan kepada anak-anak yatim, termasuk Rima dan adik-adiknya. Berkat Pak Darma, anak-anak yatim yang tidak mampu di daerah mereka dapat terus bersekolah sampai saat ini. Selama ini, baik Mimi maupun Rima merasa lebih berterima kasih lagi kepada Euis.  Anak yang kaya itu tidak pernah berbicara satu patah kata pun tentang bantuan keluarganya saat mereka di sekolah. Di luar sekolah juga tidak. Tak ada teman lain yang tahu. Mimi,  Rima , dan anakanak lain yang seperti mereka, tidak perlu merasa malu atau rendah diri karena dibantu.
***
Hari demi hari berlalu. Mimi dan Rima merasa gelisah dan serba salah karena kecurangan Euis terus berlanjut. Tiap kali mereka diberi kesempatan memeriksa kertas ulangan masing-masing, Euis mengganti jawaban yang salah di kertas miliknya. Perbuatan curang itu tak kunjung ketahuan. Tak ada yang menyangka, bahwa Euis bisa berbuat curang. Pagi itu, Bu Aisyah masuk ke dalam kelas dengan wajah ceria. “Anak-anak, dua minggu lagi akan diadakan lomba cerdas cermat antarkelas 5 di sekolah kita ini. Masing-masing kelas harus memilih satu orang untuk perwakilan,” ucap Bu Aisyah. “Sebenarnya Ibu sudah menyiapkan beberapa calon. Tetapi, kali ini Ibu ingin mendengar pendapat dari kalian. ”Seorang anak di bangku paling belakang mengangkat tangannya. “Dini saja, Bu. Dia kan yang sejak kelas satu selalu mewakili kelas untuk lomba,” usulnya. “Wah, jangan Dini lagi, Dini lagi, Bu. Cari yang paling pintar saja. Saya usul Euis, Bu. Akhir-akhir ini dialah yang sering dapat nilai tertinggi,” celetuk seorang murid bernama hadi. “Ya, Euis juga bagus sekarang,” gumam yang lain. Ternyata ada dua pilihan yang sama-sama kuat, yaitu Dini dan Euis.  Mereka pun sepakat untuk melakukan pemungutan suara seperti ketika memilih ketua kelas. Saat penghitungan suara, yusuf, ketua kelas 5A membantu Bu Aisyah. Murid-murid duduk dengan tenang di bangku masing-masing, menunggu dengan rasa penasaran. Ternyata, yang mendapat suara paling banyak adalah Euis. Ini hal baru buat kelas mereka. Juga buat Dini, anak perempuan berkacamata yang selama ini selalu mendapat peringkat pertama di kelas. “Kok euis yang terpilih, ya? Biasanya kan Dini,” bisik seseorang dari belakang bangku Leni. “Ssssttt..! Jangan keras-keras, nanti Euis dengar,” balas Mimi sambil berbisik. Sedangkan Dini, Si Juara Kelas, menarik napas dalam-dalam. “Harus bagaimana ini?” tanyanya dalam hati. Sungguh tidak enak rasanya, dikalahkan oleh anak yang tidak pernah mendapat peringkat tiga besar, seperti Euis. Dadanya mendadak menjadi sesak, matanya terasa panas. Sementara itu, mendengar pengumuman Bu Guru, Mimi dan Rima jadi merasa gelisah. Saat jam istirahat dan kelas sudah sepi, mereka berdua menghampiri bangku tempat duduk Dini. “Seharusnya kamu yang dipilih mewakili kelas kita, Din,” ucap mimi pelan. Dini hanya tersenyum, meski hatinya terasa sedikit sakit. “Kamu kan sudah sering ikut lomba, pasti nanti enggak grogi. Kalau Euis kan..,” Mimi menghentikan ucapannya dan kelihatan ragu untuk meneruskan. Rima  merendahkan suaranya, lantas berbisik kepada Dini. “Tahu tidak? Sebenarnya Euis masih banyak salah  waktu mengisi ulangan. Tapi, ia curang. Mengganti jawaban yang salah dengan jawaban yang di papan tulis.” Dini terbelalak kaget. “Apa kalian melihatnya?” tanyanya gugup. Kedua temannya mengangguk. “Aku khawatir, kalau Euis yang maju lomba nanti kelas kita kalah. Tolong dong, kamu bilang ke Bu Aisyah. Selama ini kamu kan murid kesayangannya. Kamu sudah banyak mengharumkan nama sekolah,” kata Mimi serius. Dini terlihat bingung. Di satu sisi, ia ingin sekali terpilih lomba cerdas cermat seperti biasa. Tapi, tidak enak rasanya  melaporkan keburukan teman kepada guru. Ia bukan anak yang suka mengadu. Bagaimana kalau nanti Bu Aisyah tidak mempercayai laporannya? “Kami bersedia menjadi saksi bila diperlukan,” tambah Rima, seakan memahami keraguan Dini. Dini makin bingung. Ia belum pernah melihat Euis berbuat curang. Dalam hati, ia ingin membicarakan masalah ini dengan Bu Aisyah. Tapi, yang paling membuat hatinya berat hanya satu hal. Dini masih ingat betul masa-masa pahit saat Ayahnya menderita sakit parah. Ayahnya yang bekerja sebagai tenaga pembukuan di kantor Pak Darma, harus dirawat sampai berbulan-bulan di rumah sakit. Di perusahaan lain, mungkin pegawai yang seperti itu akan dipecat atau dipotong gaji. Tapi gaji yang diterima Ayah Dini tetap utuh. Malahan, Pak Darma sering menghadiahi Ayah dengan obat-obatan herbal untuk mempercepat kesembuhannya. Dini teringat bagaimana tadi kegembiraan terpancar di wajah Euis . Dini tidak mau merusak semua itu. “Biarlah. Mungkin kali ini tidak apa-apa. Biar Euis senang,” pikirnya dalam hati. “Toh selama ini Euis dan keluarganya juga sudah banyak membahagiakan orang lain.”
***


Pagi-pagi sekali, Mimi dan Rima sudah datang di sekolah. Mereka begitu bersemangat untuk menyaksikan lomba cerdas cermat ini. Mereka segera naik ke lantai dua, yang sekarang sudah diubah menjadi semacam aula. Aula itu sehari-harinya adalah ruang kelas 5A, B, dan C yang saling terpisah. Jadi, di lantai dua itu sebenarnya hanya ada sebuah ruangan yang besar dan memanjang, tetapi disekat menjadi tiga ruang terpisah yang sama besar. Setiap kali dibutuhkan, sekat ruangan yang terbuat dari papanpapan kayu bisa dibongkar dengan mudah. Di bagian depan aula, disusun tiga meja secara sejajar. Masing-masing mempunyai sebuah kursi. Berhadapan dengan tiga meja tadi, terdapat sebuah meja besar untuk para juri. Sementara bangku-bangku penonton disusun rapi, memanjang ke belakang. Saat mereka berdua sampai di dalam ruang lomba, beberapa bangku sudah terisi. Bangku-bangku yang berada di dua barisan paling depan sengaja dikosongkan untuk tempat duduk para guru.Tak lama kemudian, para peserta, juri, dan guru-guru memasuki ruangan lomba. Sorak-sorai memenuhi ruangan  tersebut. Murid-murid dari kelas 5A, 5B dan 5C meneriakkan yel-yel untuk menyemangati wakil dari kelas mereka masing-masing. Setelah sorak-sorai dan tepuk tangan mulai mereda, Pak Guru kelas 6, yang menjadi salah satu juri lomba, mulai memberikan pertanyaan. Pertanyaan itu berisi soal matematika. Para peserta berusaha menghitung dengan cepat di kertas yang sudah disediakan di atas meja. Saat Euis masih berkutat dengan hitungannya, wakil dari kelas 5B mengangkat tangan kanannya. “Jawabannya adalah 75,” ucap anak laki-laki yang menjadi wakil kelas 5B. Pak Guru terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk. “Ya, benar!” jawabnya. Wakil dari kelas 5B itu tersenyum bangga. Para murid yang menonton memberi tepukan tangan meriah. Sedangkan Guru lainnya menuliskan sebuah garis pada kolom kelas 5B di papan tulis. Pertanyaan lain diajukan oleh juri yang berbeda. Euis  belum mengangkat tangannya saat wakil dari kelas 5B mengangkat tangan, lantas menjawab pertanyaan dengan benar. Satu poin lagi untuk kelas 5B. Perlombaan ini berjalan dengan seru dan menegangkan. Wakil dari kelas 5B dan wakil dari kelas 5C bersaing ketat memperebutkan juara. Nilai mereka saling mengejar di papan tulis. Sedangkan Euis tertinggal sangat jauh. Mimi,  Rima , Dini, dan murid-murid dari kelas 5A tercengang. Kelas-kelas lainnya sudah mendapat belasan poin. Sementara Euis sama sekali belum mengangkat tangan untuk menjawab. Mereka bertiga hampir meneteskan airmata, karena bisa melihat dengan jelas bahwa Euis gemetar. Tangannya meremas ujung seragamnya. Keringat bercucuran dari dahinya. Ia terlihat gugup karena selalu tertinggal dalam menjawab. Aula yang dijadikan ruangan lomba kini dipenuhi dengan suara berbisik-bisik. Sementara wakil dari kelas 5B dan 5C menjawab pertanyaan dengan lantang. “Wah, kalau begini kelas 5A yang mendapat juara terakhir,” bisik seorang murid yang duduk di depan Mimi dan Rima. “Iya. Padahal kelas 5A itu kan, kelas unggulan,” tambah murid yang lain, sambil berbisik juga. Rima,  Mimi, dan Dini yang duduk bersebelahan, saling berpandangan dengan sorot mata cemas. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati. Para juri masih memberikan beberapa pertanyaan lagi. Euis berhasil menjawab 3 pertanyaan dengan benar sebelum lomba ini berakhir. Tetapi, tentu saja itu belum cukup untuk menyaingi poin yang sudah didapatkan oleh kelas-kelas lain. Lomba pun berakhir. Para juri memberi selamat kepada ketiga anak yang mewakili kelas mereka masing-masing. Semua tersenyum, tapi Euis terlihat sangat murung. Dari tempat duduk mereka, Mimi,  Rima  dan Dini yakin bahwa sebenarnya Euis merasa malu sekali. Kepalanya menunduk dan kedua pipinya memerah, seperti ingin menangis. Ketiga temannya tidak tahu harus berbuat apa. Mereka merasa tidak enak hati, dan terlebih lagi mereka merasa sangat bersalah. Sedih dan tertekan sekali rasanya, melihat Euis yang sebetulnya begitu baik, hari ini terlihat menderita. Saat itulah rasa sesal yang begitu kental terasa membanjiri rongga dada Mimi,  Rima  dan Dini. Ah, seandainya saja mereka mempunyai keberanian untuk menegur Euis jauh sebelum hari ini. Seandainya saja mereka bisa melawan perasaan sungkan karena telah banyak dibantu oleh keluarga Euis. Pastilah Euis tidak perlu menanggung malu seperti itu. Euis diam-diam menyesali kecurangannya. Seandainya saja ia jujur sejak awal, tentu wajahnya akan terselamatkan dari rasa malu. Seandainya ia tidak terlena dengan kebanggaan semu, tentu hatinya tidak akan tersayat oleh kesedihan.


Read more