Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected
Sabtu, 30 Juni 2018
no image


HARGA SEBUAH KEJUJURAN
Rima hanya bisa berdiam diri dan menelan ludah waktu melihat Euis berbuat curang. Teman sebangkunya itu diam-diam menghapus jawaban yang salah di kertas ulangannya. Lantas menggantinya dengan jawaban benar yang ditulis Bu Aisyah di papan tulis. Bu Aisyah, wali kelas 5A, sangat mempercayai murid-muridnya. Setiap kali selesai ulangan, murid-murid diajak memeriksa hasil kerja mereka sendiri. Menurut Bu Aisyah, ini untuk membantu agar murid-murid bisa lekas mengetahui di mana letak kesalahan mereka. Setelah kertas ulangan itu selesai dijumlahkan berapa yang salah dan berapa yang benar, semuanya ditumpuk di meja guru. Bu Aisyah pun memeriksanya dengan cepat. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya. Matanya berbinar, mendapati bahwa kertas ulangan murid-muridnya tidak banyak memuat tanda silang. Kertas ulangan Euis bahkan bersih, tanpa tanda silang sama sekali. “Ibu senang melihat cara belajar kalian di kelas lima ini. Secara bertahap, kalian mulai mengalami peningkatan....” Kalimat bu guru belum selesai, tapi anak-anak sudah menyambutnya dengan tepuk tangan tanda gembira. “Yeeaayy!” seru mereka. Setelah kelas kembali tenang, Bu Aisyah pun melanjutkan. “Seperti teman kalian, Euis , yang Ibu lihat semua jawabannya benar. Nah, untuk selanjutnya, kalian harus lebih giat lagi belajar.” Anak-anak pun memandang ke arah Euis dengan kagum. Sementara itu, dari bangkunya yang tidak jauh dari bangku Euis, seorang anak bernama Mimi tampak diam termangu. Leni tadi juga sempat melihat bahwa Euis  berbuat curang. Tapi mulutnya terkunci rapat, tidak berani menegur. Dia juga melihat bahwa Rima pun mengetahui kecurangan Euis.  Mimi berharap Bu Aisyah mengetahui hal ini, lantas menegur Euis . Sayang sekali, tadi gurunya itu sedang sibuk  memasukkan nilai ulangan IPA murid-murid ke buku besar. Sejak dulu Mimi sangat mengagumi Euis . Temannya itu cantik, ramah dan datang dari keluarga kaya yang sangat  dihormati di daerah mereka. Keluarga Euis juga terkenal sangat baik dan pemurah. mimi ingat benar, betapa sedih dan bingung keluarganya, tiga bulan yang lalu. Saat itu, Bapaknya di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Ayah Euis menyelamatkan keluarga mereka dari kesulitan ekonomi. Bapak diberi pekerjaan baru, menjadi sopir pribadi Pak Darma, Ayahnya Euis. “Mengapa Rima tidak menegur euis, ya?”pikir Mimi heran. Tak lama kemudian, sesuatu terlintas di benaknya. “Hm, mungkin karena itu,” bisiknya kepada diri sendiri. Mimi menduga, Rima segan menegur teman sebangkunya itu, karena merasa berhutang budi kepada keluarga Euis. Ia pernah mendengar cerita dari Bapaknya, Pak Darma rutin memberikan santunan kepada anak-anak yatim, termasuk Rima dan adik-adiknya. Berkat Pak Darma, anak-anak yatim yang tidak mampu di daerah mereka dapat terus bersekolah sampai saat ini. Selama ini, baik Mimi maupun Rima merasa lebih berterima kasih lagi kepada Euis.  Anak yang kaya itu tidak pernah berbicara satu patah kata pun tentang bantuan keluarganya saat mereka di sekolah. Di luar sekolah juga tidak. Tak ada teman lain yang tahu. Mimi,  Rima , dan anakanak lain yang seperti mereka, tidak perlu merasa malu atau rendah diri karena dibantu.
***
Hari demi hari berlalu. Mimi dan Rima merasa gelisah dan serba salah karena kecurangan Euis terus berlanjut. Tiap kali mereka diberi kesempatan memeriksa kertas ulangan masing-masing, Euis mengganti jawaban yang salah di kertas miliknya. Perbuatan curang itu tak kunjung ketahuan. Tak ada yang menyangka, bahwa Euis bisa berbuat curang. Pagi itu, Bu Aisyah masuk ke dalam kelas dengan wajah ceria. “Anak-anak, dua minggu lagi akan diadakan lomba cerdas cermat antarkelas 5 di sekolah kita ini. Masing-masing kelas harus memilih satu orang untuk perwakilan,” ucap Bu Aisyah. “Sebenarnya Ibu sudah menyiapkan beberapa calon. Tetapi, kali ini Ibu ingin mendengar pendapat dari kalian. ”Seorang anak di bangku paling belakang mengangkat tangannya. “Dini saja, Bu. Dia kan yang sejak kelas satu selalu mewakili kelas untuk lomba,” usulnya. “Wah, jangan Dini lagi, Dini lagi, Bu. Cari yang paling pintar saja. Saya usul Euis, Bu. Akhir-akhir ini dialah yang sering dapat nilai tertinggi,” celetuk seorang murid bernama hadi. “Ya, Euis juga bagus sekarang,” gumam yang lain. Ternyata ada dua pilihan yang sama-sama kuat, yaitu Dini dan Euis.  Mereka pun sepakat untuk melakukan pemungutan suara seperti ketika memilih ketua kelas. Saat penghitungan suara, yusuf, ketua kelas 5A membantu Bu Aisyah. Murid-murid duduk dengan tenang di bangku masing-masing, menunggu dengan rasa penasaran. Ternyata, yang mendapat suara paling banyak adalah Euis. Ini hal baru buat kelas mereka. Juga buat Dini, anak perempuan berkacamata yang selama ini selalu mendapat peringkat pertama di kelas. “Kok euis yang terpilih, ya? Biasanya kan Dini,” bisik seseorang dari belakang bangku Leni. “Ssssttt..! Jangan keras-keras, nanti Euis dengar,” balas Mimi sambil berbisik. Sedangkan Dini, Si Juara Kelas, menarik napas dalam-dalam. “Harus bagaimana ini?” tanyanya dalam hati. Sungguh tidak enak rasanya, dikalahkan oleh anak yang tidak pernah mendapat peringkat tiga besar, seperti Euis. Dadanya mendadak menjadi sesak, matanya terasa panas. Sementara itu, mendengar pengumuman Bu Guru, Mimi dan Rima jadi merasa gelisah. Saat jam istirahat dan kelas sudah sepi, mereka berdua menghampiri bangku tempat duduk Dini. “Seharusnya kamu yang dipilih mewakili kelas kita, Din,” ucap mimi pelan. Dini hanya tersenyum, meski hatinya terasa sedikit sakit. “Kamu kan sudah sering ikut lomba, pasti nanti enggak grogi. Kalau Euis kan..,” Mimi menghentikan ucapannya dan kelihatan ragu untuk meneruskan. Rima  merendahkan suaranya, lantas berbisik kepada Dini. “Tahu tidak? Sebenarnya Euis masih banyak salah  waktu mengisi ulangan. Tapi, ia curang. Mengganti jawaban yang salah dengan jawaban yang di papan tulis.” Dini terbelalak kaget. “Apa kalian melihatnya?” tanyanya gugup. Kedua temannya mengangguk. “Aku khawatir, kalau Euis yang maju lomba nanti kelas kita kalah. Tolong dong, kamu bilang ke Bu Aisyah. Selama ini kamu kan murid kesayangannya. Kamu sudah banyak mengharumkan nama sekolah,” kata Mimi serius. Dini terlihat bingung. Di satu sisi, ia ingin sekali terpilih lomba cerdas cermat seperti biasa. Tapi, tidak enak rasanya  melaporkan keburukan teman kepada guru. Ia bukan anak yang suka mengadu. Bagaimana kalau nanti Bu Aisyah tidak mempercayai laporannya? “Kami bersedia menjadi saksi bila diperlukan,” tambah Rima, seakan memahami keraguan Dini. Dini makin bingung. Ia belum pernah melihat Euis berbuat curang. Dalam hati, ia ingin membicarakan masalah ini dengan Bu Aisyah. Tapi, yang paling membuat hatinya berat hanya satu hal. Dini masih ingat betul masa-masa pahit saat Ayahnya menderita sakit parah. Ayahnya yang bekerja sebagai tenaga pembukuan di kantor Pak Darma, harus dirawat sampai berbulan-bulan di rumah sakit. Di perusahaan lain, mungkin pegawai yang seperti itu akan dipecat atau dipotong gaji. Tapi gaji yang diterima Ayah Dini tetap utuh. Malahan, Pak Darma sering menghadiahi Ayah dengan obat-obatan herbal untuk mempercepat kesembuhannya. Dini teringat bagaimana tadi kegembiraan terpancar di wajah Euis . Dini tidak mau merusak semua itu. “Biarlah. Mungkin kali ini tidak apa-apa. Biar Euis senang,” pikirnya dalam hati. “Toh selama ini Euis dan keluarganya juga sudah banyak membahagiakan orang lain.”
***


Pagi-pagi sekali, Mimi dan Rima sudah datang di sekolah. Mereka begitu bersemangat untuk menyaksikan lomba cerdas cermat ini. Mereka segera naik ke lantai dua, yang sekarang sudah diubah menjadi semacam aula. Aula itu sehari-harinya adalah ruang kelas 5A, B, dan C yang saling terpisah. Jadi, di lantai dua itu sebenarnya hanya ada sebuah ruangan yang besar dan memanjang, tetapi disekat menjadi tiga ruang terpisah yang sama besar. Setiap kali dibutuhkan, sekat ruangan yang terbuat dari papanpapan kayu bisa dibongkar dengan mudah. Di bagian depan aula, disusun tiga meja secara sejajar. Masing-masing mempunyai sebuah kursi. Berhadapan dengan tiga meja tadi, terdapat sebuah meja besar untuk para juri. Sementara bangku-bangku penonton disusun rapi, memanjang ke belakang. Saat mereka berdua sampai di dalam ruang lomba, beberapa bangku sudah terisi. Bangku-bangku yang berada di dua barisan paling depan sengaja dikosongkan untuk tempat duduk para guru.Tak lama kemudian, para peserta, juri, dan guru-guru memasuki ruangan lomba. Sorak-sorai memenuhi ruangan  tersebut. Murid-murid dari kelas 5A, 5B dan 5C meneriakkan yel-yel untuk menyemangati wakil dari kelas mereka masing-masing. Setelah sorak-sorai dan tepuk tangan mulai mereda, Pak Guru kelas 6, yang menjadi salah satu juri lomba, mulai memberikan pertanyaan. Pertanyaan itu berisi soal matematika. Para peserta berusaha menghitung dengan cepat di kertas yang sudah disediakan di atas meja. Saat Euis masih berkutat dengan hitungannya, wakil dari kelas 5B mengangkat tangan kanannya. “Jawabannya adalah 75,” ucap anak laki-laki yang menjadi wakil kelas 5B. Pak Guru terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk. “Ya, benar!” jawabnya. Wakil dari kelas 5B itu tersenyum bangga. Para murid yang menonton memberi tepukan tangan meriah. Sedangkan Guru lainnya menuliskan sebuah garis pada kolom kelas 5B di papan tulis. Pertanyaan lain diajukan oleh juri yang berbeda. Euis  belum mengangkat tangannya saat wakil dari kelas 5B mengangkat tangan, lantas menjawab pertanyaan dengan benar. Satu poin lagi untuk kelas 5B. Perlombaan ini berjalan dengan seru dan menegangkan. Wakil dari kelas 5B dan wakil dari kelas 5C bersaing ketat memperebutkan juara. Nilai mereka saling mengejar di papan tulis. Sedangkan Euis tertinggal sangat jauh. Mimi,  Rima , Dini, dan murid-murid dari kelas 5A tercengang. Kelas-kelas lainnya sudah mendapat belasan poin. Sementara Euis sama sekali belum mengangkat tangan untuk menjawab. Mereka bertiga hampir meneteskan airmata, karena bisa melihat dengan jelas bahwa Euis gemetar. Tangannya meremas ujung seragamnya. Keringat bercucuran dari dahinya. Ia terlihat gugup karena selalu tertinggal dalam menjawab. Aula yang dijadikan ruangan lomba kini dipenuhi dengan suara berbisik-bisik. Sementara wakil dari kelas 5B dan 5C menjawab pertanyaan dengan lantang. “Wah, kalau begini kelas 5A yang mendapat juara terakhir,” bisik seorang murid yang duduk di depan Mimi dan Rima. “Iya. Padahal kelas 5A itu kan, kelas unggulan,” tambah murid yang lain, sambil berbisik juga. Rima,  Mimi, dan Dini yang duduk bersebelahan, saling berpandangan dengan sorot mata cemas. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati. Para juri masih memberikan beberapa pertanyaan lagi. Euis berhasil menjawab 3 pertanyaan dengan benar sebelum lomba ini berakhir. Tetapi, tentu saja itu belum cukup untuk menyaingi poin yang sudah didapatkan oleh kelas-kelas lain. Lomba pun berakhir. Para juri memberi selamat kepada ketiga anak yang mewakili kelas mereka masing-masing. Semua tersenyum, tapi Euis terlihat sangat murung. Dari tempat duduk mereka, Mimi,  Rima  dan Dini yakin bahwa sebenarnya Euis merasa malu sekali. Kepalanya menunduk dan kedua pipinya memerah, seperti ingin menangis. Ketiga temannya tidak tahu harus berbuat apa. Mereka merasa tidak enak hati, dan terlebih lagi mereka merasa sangat bersalah. Sedih dan tertekan sekali rasanya, melihat Euis yang sebetulnya begitu baik, hari ini terlihat menderita. Saat itulah rasa sesal yang begitu kental terasa membanjiri rongga dada Mimi,  Rima  dan Dini. Ah, seandainya saja mereka mempunyai keberanian untuk menegur Euis jauh sebelum hari ini. Seandainya saja mereka bisa melawan perasaan sungkan karena telah banyak dibantu oleh keluarga Euis. Pastilah Euis tidak perlu menanggung malu seperti itu. Euis diam-diam menyesali kecurangannya. Seandainya saja ia jujur sejak awal, tentu wajahnya akan terselamatkan dari rasa malu. Seandainya ia tidak terlena dengan kebanggaan semu, tentu hatinya tidak akan tersayat oleh kesedihan.


Read more
Selasa, 17 Januari 2017
no image
Kesimpulan Mata Kuliah TIK semester 3

Saya akan memberikan kesimpulan mata
kuliah Teknologi Informasi mengenai materi yang telah dipelajari dari pertemuan pertama di semester tiga sampai UAS . Dosen saya bernama Rudi Hartono,S.kom.,M.pd saya di didik oleh beliau selama satu semester ini. Beliau telah mengajarkan banyak ilmu mengenai  pembelajaran Tik. Pertemuan pertama kami membahas mengenai dasar-dasar tentang apa itu Tik lalu di berikan penjelasan yang lebih luas mengenai isi Tik . Pertemuan kedua beliau juga mengajarkan kepada kami tentang perbedaan sistem operasi . Pertemuan ketiga mempelajari tentang CDM. Pertemuan ke empat mempelajari tentang Website disana saya dan kawan-kawan diajarkan untuk membuat Web baik melalui Word press maupun Blogspot. Pertemuan kelima mempelajari mengenai bagaimana cara mengelola web dikampus saya yaitu Universitas Djunda Bogor lalu ditunjukkan berita-berita apa saja yang bisa di akses. Pertemuan selanjutnya yaitu kami diajarkan mengenai cara mencari dokumen di google dalam bentuk Ppt maupun word, yaitu jika mencari dokumen word ditambahkan .word.

            Pertemuan ke tujuh itu adalah UTS tugasnya yaitu kami membuat 300 pack Unida dan tugas individu masing-masing mahasiswa juga ditugaskan membuat blog sendiri dan saling komen antar blog teman lainnya dan menggunakan hyperlink memakai unida dan Alhamdulillah semua dapat berjalan d.ac.id dengan lancar dan setelah itu kami diberikan tugas lewat daring dan tugasnya itu tentang bagaimana cara mengubah profil daring unida dan menentukan rumus perhitungan maksimal ,minimal dan rata-rata jumlah didalam ms.excel dan tugasnya itu dikirim melalui email. Pertemuan selanjutnya mempelajari bagaimana seorang mahasiswa untuk mencari data ataupun nilai-nilai melalui forlap dikti. Pertemuan selanjutnya kami diberi pengarahan tentang Ms.Acces. Pertemuan selanjutnya yaitu uji coba Ms.Acces yang telah dibahas di minggu yang lalu, dimana siswa di bagi kedalam 2 kloter masing-masing kloter terdiri dari 15 mahasiswa dan kita diberikan waktu selama 30 menit. Dan pertemuan selanjutnya  mempelajari bagaimana cara menggunakan blog agar menghasilkan uang dan pertemuan selanjutnya mempelajari tentang bagaimana cara mengubah theme blog kita sesuai dengan yang kita inginkan dan pertemuan terakhir yaitu pada tanggal 14 januari 2017 yaitu kita membahas tentang apa yang akan di UASkan.
Read more
Minggu, 13 November 2016
no image



PENDAHULUAN
            Dalam setiap pembelajaran pada zaman sekarang banyak guru yang menggunakan media pembelajaran lebih tepatnya hampir seluruhnya menggunakan media, menggunakan media pembelajaran juga dapat membantu pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik dan lebih efisien terkadang banyak guru yang keliru dalam cara memilih media untuk pembelajaran yang mengakibatkan adanya ketidaksesuaian antara pembelajaran dengan media yang digunakan pada saat pembelajaran berlangsung.
            Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh.
            Dengan menggunakan media pembelajaran pada anak SD akan lebih mempermudah mereka dalam memahami materi yang akan disampaikan karena pada saat usia Anak-anak SD mereka lebih berpikir konkrit dan belum bisa berpikir secara abstrak oleh karena itu penggunaan media sangat membantu berjalannya proses pembelajaran.
            Apabila guru telah menentukan alternatif media yang akan guru gunakan dalam pembelajaran, maka pertanyaan berikutnya sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di pasaran ? Jika tersedia, maka guru tinggal meminjam atau membelinya saja. Itupun jika media yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah guru rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media yang guru butuhkan ternyata belum tersedia, mau tak mau guru harus membuat sendiri program media sesuai keperluan tersebut. Untuk itu guru harus mengetahui cara pemilihan media seperti apa yang cocok digunakan dalam kelas saat pembelajaran.
            Dalam pemilihan media pembelajaran kita juga harus memperhatikan prinsip, faktor, kriteria dan model atau prosuder pemilihan media pembelajaran.
PRINSIP SERTA FAKTOR PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
            Biasanya guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan antara lain : (a) ia merasa sudah akrab dengab media itu, (b) ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripad dirinya sebdiri, (c) media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhattian siswa, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisir. Dalam hal memilih medi ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan tidak hanya ke tiga pertimbangan diatas.
            Hal yang menjadi pertanyaan saat akan memilih media adalah apa ukuran atau kriteria kesesuaian dalam pemilihan media. Jawabannya adalah ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran, misalnya tujuan instruksional yang ingin dicapai, karakteristik siswa atau sasaran, jenis rangsangan belajatr yang diinginkan (audio, visual, gerak , dan seterusnya), keadaan latar atau lingkungan, kondisi setempat, dan luasnya jangkauan yang ingin dilayani. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya akan menjadi pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran.
            Prinsip pemlihan media pembelajaran yang dikemukakan Nana Sudjana (1991) sebagai  berikut :
1.    Menentukan jenis media dengan tepat. Artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang diajarkan.
2.    Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat. Artinya, perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan anak didik.
3.    Menyajikan media dengan tepat. Artinya, teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode waktu dan sarana.
4.    Menempatkan atau memperlihatkan meia pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. Artinya kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar media digunakan. Tentu tidak setiap saat menggunakan media pengajaran, tanpa kepentingan yang jelas.
            Prinsip-prinsip lain dalam pemilihan media pembelajaran yang harus diperhatikan, diantaranya :
1.    Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal pemilihan ini maksudnya guru harus memilih sesuai dengan apa yang ingin guru tersebut capai agar tidak adanya kendala atau ketidaksinambungan antar media dengan pembelajaran yang ingin guru tuju.
2.    Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas. Maksudnya memilih media yang akan dipakai tidak hanya dengan anggapan bahwa media ini mudah digunakan oleh guru atau sekedar untuk bersenang-senang, melainkan harus menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran agar meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran siswa.
3.    Pemilihan media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. Maksudnya menggunakan media yang sesuai jika dipakai untuk seluruh siswa dalam satu kelas dan mudah dipahami oleh siswa.
4.    Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajara siswa serta gaya dan kemampuan guru. Untuk itu guru harus memahami karakteristik serta prosedur penggunaan media yang dipilih.
5.    Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.
            Tidak hanya memperhatikan prinsip-prinsip kita juga harus memperhatikan Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan media pembelajaran, yakni :
1.    Objektivitas. Metode dipilih bukan atas kesenangan atau kebutuhan guru, melainkan keperluan system belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa.
2.    Program pengajaran. Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus seusai dengan kurikulum yang berlaku, baik menyangkut isi, struktur maupun kedalamannya.
3.    Sasaran program. Media yang akan digunakan harus dilihat kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan anak didik, baik dari segi bahasa, simbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajian maupun waktu penggunaannya.
4.    Situasi dan kondisi. Yakni situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan dipergunakan, baik ukuran, perlengkapan maupun ventilasinya, situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran baik jumlah, motivasi dan kegairahannya.
5.    Kualitas teknik. Barangkali ada rekaman suara atau gambar-gambar dan alat-alat lainnya yang perlu penyempurnaan sebelum digunakan. Misalnya suara atau gambar yang kurang jelas, keadaannya telah rusak, ketidaksesuaian dengan alat yang lainnya.
           
            Faktor pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat dapat kita rumuskan dalam satu kata “ACTION” , yaitu akronim dari :
1.    Access
            Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam media. Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media Internet, perlu diperhatikan apakah koneksi Internetnya memadai? Apakah siswa juga diperbolehkan menggunakan atau mengaksesnya ?
2.    Cost
            Biaya juga harus dipertimbangakn. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya tersebut harus kita pertimbangkan dengan seberapa besar manfaatnya. Jika kita bisa menggunakan biaya yang lebih murah dan lebih banyak manfaatnya akan lebih baik jika menggunakan biaya yang lebih murah.
3.    Technology
            Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tetapi kita perlu perhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggukan media audiovisual di kelas. Perlu kita pertimbangkan, apakah ada jaringan listrik, apakah voltase listriknya memadai ?
4.    Interactivity
            Media yang baik adalah dapat menimbulkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang guru kembangkan tentu memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
5.    Organization
            Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya, apakah pimpinan sekolah mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya?
6.    Novelty
            Kebaruan dari media yang guru pilih juga harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.
KRITERIA PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
            Seperti yang telah diketahui dalam pemilihan media tidak hanya faktor, prinsip tetapi guru juga harus memeperhatikan kriteria pemilihan media pembelajaran. Terdapat dua macam media pembelajaran (instructional material), yaitu (1) media yang dimanfaatkan. Artinya media itu telah ada sedangkan guru tinngal memilih dan menggunakannya, dan (2) media yang dirancang sendiri. Artinya media yang harus disiapkan dan dikembangkan oleh guru.
            Apabila akan menggunakan media pengajaran dengan memanfaatkan rancang yang telah ada, yang dapat dijadikan dasar acuannya ialah.
a)    Apakah topik yang akan dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat siswa untuk belajar?
b)    Apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi siswa?
c)    Apabila media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku?
d)    Apakah materi yang disajikan autentik dan actual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui massa dan atau peristiwa yang telah lama terjadi?
e)    Apakah fakta dan konsepnya terjamin kecermatannya atau suatu hal yang masih diragukan?
f)     Apakah format penyajianny berdasarkan tatat urutan belajar yang logis?
g)    Apakah pandangannya objektif dan tidak mengandung unsur propaganda atau hasutan terhadap siswa?
h)   Apakah narasi, gambar, efek, warna dan sebagainya, memenuhi standar kualitas teknis?
i)     Apakah bobot penggunaan bahasa, simbol-simbol, dan ilustrasi-ilustrasinya sesuai dengan tingkat kematangan berpikir siswa?
j)      Apakah sudah diuji kesahihannya (validitasnya)?
            Untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri), pertanyaan-pertanyaan yang dijadikan sebagai acuan diantaranya sebagai berikut :
a)    Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan?
b)    Apakah media yang dirancang itu untuk keperluan pembelajaran atau alat bantu pembelajaran (peraga)?
c)    Apakah dalam pembelajarannya akan menggunakan strategi kognitif, afektif, atau psikomotor?
d)    Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih sangat asing bagi siswa?
e)    Apakah perlu rangsangan suara seperti untuk pembelajaran bahasa?
f)     Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pembelajaran seni tari atau olahraga?
g)    Apakah perlu rangsangan warna?
            Setelah ketujuh pertanyaan tersebut terjawab, maka guru dapat mengajukan alternatif media yang akan dirancang. Alternatif tersebut mungkin jenis media audio, visual, atau audiovisual. Selanjutnya ajukan lagi pertanyaan sebagai acuan berikutnya.
h)   Apakah bahan dasarnya tersedia atau mudah diperoleh/
i)     Apakah alat pembuatannya tersedia?
j)      Apakah pembuatannya tidak terlalu rumit?
k)    Apabila menghadapi kesulitan, apakah ada orang-orang yang dapat diminta bantuannya?
l)     Apakah mudah dalam penggunaannya dan atau tidak membahayakan seperti meledak, menimbulkan kebakaran, dan sebagainya?
m)  Apakah tersedia dana untuk pembuatannya?
            Nana Sudjana & Ahamd Rival (1991) mengemukakan rumusan pemilihan media dengan kriteria-kriteria sebagai berikut :
1.    Ketepatannya dengan tujuan pengajaran. Artinya, media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan intruksioanal yang berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sistesis, bisasanya lebih mungkin menggunakan media pengajaran.
2.    dukungan terhadap isi bahan pelajaran. artinya, bahan pelajaran yang sifatnya fakta, ptinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlakukan bantuan media agar lebih muydah dipahami siswa.
3.    Kemudahan memperoleh media. Artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umunya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal disamping sederhana dan praktis penggunaannya
4.    Keteramoilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaannya dalam interaksi bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
5.    Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa. Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi siswa yang tel;ah memiliki kadar berfikir yang tinggi.
            Adapun beberapa kriteria  yang patut diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran sebagai berikut.
1.    Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan intruksional yang telah ditetapkan . secara umum bisa mengaju kepada salah satu atau dua ataupun ketiga-tiganya yaitu ranah kogintif, afektif, dan psikomotor.
2.    Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Pada kriteria ini guru harus memperhatikan keselaran dan kesesuaian dengan kebutuhan tugas dan mental siswa.
3.    Praktis, luwes, dan bertahan. Kriteria ini menuntun guru agar memilih media yang mudah di dapat, murah dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan, juga media yang digunakan mudah dipahami oleh siswa dan dapat dipindah-pindah kemana saja serta mudah untukmenggunakannya.
4.    Guru terampil menggunakannya. Ini merupakan kriteria yang paling utama karena setiap media dapat dikatakan bermanfaat tergantung bagaimana dengan cara guru untuk menggunakannya apakah dia bisa menggunakannya atau malah membuat siswa bingung karena guru tersebut kurang menguasai cara menggunakan media tersebut.
5.    Pengelompokan sasaran. Media yang digunakan pada kelompok besar belum tentu bisa digunakan pada kelompok perorangan. Jadi guru harus levih memperhatikan media mana yang tepat untuk digunakan oleh kelompok besar, sedang, kecil, maupun perorangan.
6.    Mutu teknis. Misalnya kita menggunakan slide harus memperhatikan kejelasan penulisan pada slide tersebut agar tidak terjadi kurang efektifnya pada saat proses pembelajaran karena kurang terlihatnya tulisan isi materi yang ditampilkan pada slide tersebut.
MODEL ATAU PROSEDUR PEMILIHAN MEDIA PEMBELJARAN
            Bila dilihat dari bentuknya ada tiga model pemilihan media pembelajaran yaitu.
a)    Model Flowchart. Yaitu model yang menggunakan sistem pengguran (atau eliminasi) dalam pengambilan keoutusan pemilihan. Meskipun belum ada penelitian khusus sepertinya model media ini dapat digunakan baik untuk menggambarkan proses pemilihan media jadi maupun media rancangan.
b)    Model Matriks. Yaitu model yang menangguhkan proses pengambilan keputusan pemilihan sampai seluruh kriteria pemilihannya diidentifikasi. Meskipun belum ada penelitian khusus sepertinya model ini lebih serasi untuk digunakan dalam pemilihan media rancangan.
c)    Model Checklist. Yang juga menangguhkan proses pengambilan keputusan pemilihan sampai seluruh kriterianya diperimbangkan. Meskipun belum ada penelitian khusus sepertinya model ini lebih sesuai untuk membakukan prosuder media jadi.
            Heinich, dan kawan-kawan (1982) mengajukan model perencanaan pemilhan dan penggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah “ASSURE” adalah singkatan dari
1.    Analiyze learners. Leasson development begins by identifying your students’ unique attributes and learning characteristics.
Ø  Determine level of experience with using instructional materials, manipulatives, displays, and exhibts.
Ø  Consider the students’ developmental levels in terms of working on their own, in pairs, or in triads.
Ø  Assess prior knowledge brought to the learning experience.
2.    State standards and objectives. Objectives provide you and your students with a guide to learning outcomes.
Ø  Consider the type of learning outcome that you wish to address: knowledge, skill, or attitude.
Ø  Develop objectives using school, state and/or national standards as guidelines.
3.    Select strategies, technology, media, and materials. Once you know your learners and the desired outcomes for their learning, you need to consider how the lesson will be designed (strategis) and what you and your students will use (technology, media, and materials). Use the information on instructional materials, manipulatives, displays, and exhibits discussed in this chapter as the basis for selecting, modifying, or designing your materials.
Ø  Consider the types of instructional strategies that can be supported by instructional materials, manipulatives, displays, and exhibits.
Ø  Preview and appraise both commercially and locally produced materials.
Ø  Adjust the application to suit the specific nature of your students and objectives.
Ø  Preview and appraise both commercially and locally produced materials before using them with your students. For printed materials use “Selection Rubric: printed materials.”
Ø  Chose the format(s) that will meet your needs
Ø  Select the materials based on how you want students to use the materials (in a learning center, as individuals, or with a group).
Ø  Select the materials available in your classroom and at your school’s media center. Wouyld a real or virtual field trip offer students the best learnin g experience?
Ø  Use the apporopriate guidelines for preparing text and designing bulletin boards appearing in this chapter.
Ø  Use the bulletin board checklist within the chapter for assessing teacher-made or student-made bulletin boards.
Ø  Be certain that all materials used have been cleared of any potential copyright issues.
4.    Utilize technology, media. And materials. The way a teacher uses the media and materials in instruction will influence the way the students learn.
Ø  Use the appropriate instructional techniques for the technology, media, and materials that you select. Within this capter there are guidelines for when to use learning centers, intrucionals modules, manipulatives, and exhibits
Ø  Use the guidelines for conducting field trips that appear in this chapter.
5.    Require learner participation. Get your students inloved in hands-on activities to ensure that they are engaged in their own learning.
Ø  Use learning centers to provide students with independent learning experiences.
Ø  Allow students to handle manipulatives when possible.
Ø  Encourage students to find the answers rather than just reading passively when using printed materials. Supplement their reading with objectives or questions that direct students to important content. Remember SQ3R!
Ø  Find ways to actively involve students before, during, and after the experience if you are having them participate in a real or virtual field trip.
6.    Evaluate and revise. Assessing student learning is important to determine whether they have achieved the objectives. And, you need to reflect on the learning experience you designed by evaluating and revising your lesson design and implementation.
Ø  Determine the level of attainment each student reaches toward achieving the objectives.
Ø  Evaluate the effectiveess of the instructional materials and displays surfaces.
Ø  Evaluate your useof the instructional materials and displays surfaces.
Ø  Solicit feedback from your students on the value of the learning center, instructional module, or field trip.
Ø  Revise your selection of materials after you have determined how they have worked.
KESIMPULAN
            Berdasarkan informasi dan hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian, diketahui bahwa ada perbedaan respon siswa dalam menerima materi pelajaran ketika guru menggunakan media dengan tidak
menggunakan media. Ketika guru menggunakan media pembelajaran untuk menyampaikan materi, siswa sangat antusias, lebih aktif, dan daya tangkap terhadap materi lebih cepat. Hal tersebut sesuai dengan manfaat penggunaan media pembelajaran yang dikemukakan oleh Arsyad (2011:25), bahwa media dapat memperjelas penyajian pesan, meningkatkan dan mengarahkan perhatian siswa, dan memberikan kesamaan belajar pada siswa.
            Karena dari itu guru harus memperhatikan cara pemilihan media agar tidak membuat adanya ketidaksesuaian antara media dengan materi yang digunakan. Guru juga harus memeperhatikan prinsip yang sudah dijelaskan, yaitu (a) Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. (b) Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas. (c) Pemilihan media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. (d) Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajara siswa serta gaya dan kemampuan guru. (e) Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran. Adapun guru juga harus memperhatikan beberapa faktor serta adanya krtiteria dan prosedur pemilihan media pembelajaran.
            Hal ini diharapkan agar guru bisa lebih tepat menggunakan dan memilih media dalam pembelajaran agar tidak ada lagi ketidaksesuaian antara media yang dipilih dengan materi yang digunakan, juga agar tidak adanya hal-hal yang tidak diinginkan saat menggunakan media pembeljaran. Media pembelajaran juga bisa membantu guru untuk mempermudah cara mengajar atau membuat siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan oleh guru.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad Azhar. 2013.  Media Pembelajaran. Depok: Raja Grafindo Persada.
Sanjaya Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sadiman Arief S,(dkk). 2009. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Fatuhurrohman Pupuh. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT Refika Aditama.
N. Sudirman,(dkk). 1992. Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Yamin Martinis. 2013. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada press.
Smaldino Sharon. E,(dkk). 2007. Instructional Technology and Media for Learning.
Ar-Risalah. Penggunaan Media Pembelajaran Sebagai Penunjang Kegiatan Belajar Mengajar Vol XVII No.2 2016.

Read more