HARGA SEBUAH KEJUJURAN
Rima hanya bisa berdiam diri dan menelan ludah
waktu
melihat Euis berbuat curang. Teman sebangkunya
itu diam-diam menghapus jawaban yang salah di kertas ulangannya. Lantas
menggantinya dengan jawaban benar yang ditulis Bu Aisyah di papan tulis. Bu
Aisyah, wali kelas 5A, sangat mempercayai murid-muridnya. Setiap kali selesai
ulangan, murid-murid diajak memeriksa hasil kerja mereka sendiri. Menurut Bu
Aisyah, ini untuk membantu agar murid-murid bisa lekas mengetahui di mana letak
kesalahan mereka. Setelah kertas ulangan itu selesai dijumlahkan berapa yang
salah dan berapa yang benar, semuanya ditumpuk di meja guru. Bu Aisyah pun
memeriksanya dengan cepat. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya.
Matanya berbinar,
mendapati bahwa kertas ulangan murid-muridnya tidak
banyak memuat tanda silang. Kertas ulangan Euis bahkan bersih, tanpa tanda
silang sama sekali. “Ibu
senang melihat cara belajar kalian di kelas lima ini.
Secara
bertahap, kalian mulai mengalami peningkatan....” Kalimat
bu guru belum selesai, tapi anak-anak sudah menyambutnya
dengan tepuk tangan tanda gembira. “Yeeaayy!” seru mereka.
Setelah
kelas kembali tenang, Bu Aisyah pun melanjutkan. “Seperti
teman kalian, Euis , yang Ibu lihat semua jawabannya benar.
Nah, untuk selanjutnya, kalian harus lebih giat lagi belajar.”
Anak-anak pun memandang ke arah Euis dengan kagum.
Sementara itu, dari bangkunya yang tidak jauh dari bangku Euis, seorang anak
bernama Mimi tampak diam termangu. Leni
tadi juga sempat melihat bahwa Euis berbuat curang. Tapi mulutnya terkunci rapat,
tidak berani menegur. Dia juga melihat bahwa Rima pun mengetahui kecurangan Euis.
Mimi berharap Bu Aisyah mengetahui hal
ini, lantas menegur Euis . Sayang sekali, tadi gurunya itu sedang sibuk memasukkan nilai ulangan
IPA murid-murid ke buku besar. Sejak
dulu Mimi sangat mengagumi Euis . Temannya itu cantik, ramah dan datang dari
keluarga kaya yang sangat dihormati di daerah
mereka. Keluarga Euis juga terkenal sangat baik dan pemurah. mimi ingat benar,
betapa sedih dan bingung keluarganya, tiga bulan yang lalu. Saat itu, Bapaknya
di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Ayah Euis menyelamatkan keluarga
mereka dari kesulitan ekonomi. Bapak diberi pekerjaan baru, menjadi sopir
pribadi Pak Darma, Ayahnya Euis. “Mengapa Rima tidak menegur euis, ya?”pikir Mimi
heran. Tak lama kemudian, sesuatu terlintas di benaknya. “Hm, mungkin karena
itu,” bisiknya kepada diri sendiri. Mimi menduga, Rima segan menegur teman
sebangkunya itu, karena merasa berhutang budi kepada keluarga Euis. Ia pernah
mendengar cerita dari Bapaknya, Pak Darma rutin memberikan santunan kepada
anak-anak yatim, termasuk Rima dan adik-adiknya. Berkat Pak Darma, anak-anak
yatim yang tidak mampu di daerah mereka dapat terus bersekolah sampai saat ini.
Selama ini, baik Mimi maupun Rima merasa lebih berterima kasih lagi kepada Euis.
Anak yang kaya itu tidak pernah
berbicara satu patah kata pun tentang bantuan keluarganya saat mereka di
sekolah. Di luar sekolah juga tidak. Tak ada teman lain yang tahu. Mimi, Rima , dan anakanak lain yang seperti mereka,
tidak perlu merasa malu atau rendah diri karena dibantu.
***
Hari demi hari berlalu. Mimi dan Rima merasa gelisah
dan serba salah karena kecurangan Euis terus berlanjut. Tiap kali mereka diberi
kesempatan memeriksa kertas ulangan masing-masing, Euis mengganti jawaban yang
salah di kertas miliknya. Perbuatan curang itu tak kunjung ketahuan. Tak ada
yang menyangka, bahwa Euis bisa berbuat curang. Pagi itu, Bu Aisyah masuk ke
dalam kelas dengan wajah ceria. “Anak-anak, dua minggu lagi akan diadakan lomba
cerdas cermat antarkelas 5 di sekolah kita ini. Masing-masing kelas harus
memilih satu orang untuk perwakilan,” ucap Bu Aisyah. “Sebenarnya Ibu sudah
menyiapkan beberapa calon. Tetapi, kali ini Ibu ingin mendengar pendapat dari
kalian. ”Seorang anak di bangku paling belakang mengangkat tangannya. “Dini
saja, Bu. Dia kan yang sejak kelas satu selalu mewakili kelas untuk lomba,”
usulnya. “Wah, jangan Dini lagi, Dini lagi, Bu. Cari yang paling pintar saja.
Saya usul Euis, Bu. Akhir-akhir ini dialah yang sering dapat nilai tertinggi,”
celetuk seorang murid bernama hadi. “Ya, Euis juga bagus sekarang,” gumam yang
lain. Ternyata ada dua pilihan yang sama-sama kuat, yaitu Dini dan Euis. Mereka pun sepakat untuk melakukan pemungutan
suara seperti ketika memilih ketua kelas. Saat penghitungan suara, yusuf, ketua
kelas 5A membantu Bu Aisyah. Murid-murid duduk dengan tenang di bangku
masing-masing, menunggu dengan rasa penasaran. Ternyata, yang mendapat suara
paling banyak adalah Euis. Ini hal baru buat kelas mereka. Juga buat Dini, anak
perempuan berkacamata yang selama ini selalu mendapat peringkat pertama di
kelas. “Kok euis yang terpilih, ya? Biasanya kan Dini,” bisik seseorang dari
belakang bangku Leni. “Ssssttt..! Jangan keras-keras, nanti Euis dengar,” balas
Mimi sambil berbisik. Sedangkan Dini, Si Juara Kelas, menarik napas dalam-dalam.
“Harus bagaimana ini?” tanyanya dalam hati. Sungguh tidak enak rasanya,
dikalahkan oleh anak yang tidak pernah mendapat peringkat tiga besar, seperti Euis.
Dadanya mendadak menjadi sesak, matanya terasa panas. Sementara itu, mendengar
pengumuman Bu Guru, Mimi dan Rima jadi merasa gelisah. Saat jam istirahat dan
kelas sudah sepi, mereka berdua menghampiri bangku tempat duduk Dini. “Seharusnya
kamu yang dipilih mewakili kelas kita, Din,” ucap mimi pelan. Dini hanya
tersenyum, meski hatinya terasa sedikit sakit. “Kamu kan sudah sering ikut
lomba, pasti nanti enggak grogi. Kalau Euis kan..,” Mimi menghentikan ucapannya
dan kelihatan ragu untuk meneruskan. Rima merendahkan suaranya, lantas berbisik kepada
Dini. “Tahu tidak? Sebenarnya Euis masih banyak salah waktu mengisi ulangan. Tapi, ia curang.
Mengganti jawaban yang salah dengan jawaban yang di papan tulis.” Dini
terbelalak kaget. “Apa kalian melihatnya?” tanyanya gugup. Kedua temannya
mengangguk. “Aku khawatir, kalau Euis yang maju lomba nanti kelas kita kalah.
Tolong dong, kamu bilang ke Bu Aisyah. Selama ini kamu kan murid kesayangannya.
Kamu sudah banyak mengharumkan nama sekolah,” kata Mimi serius. Dini terlihat
bingung. Di satu sisi, ia ingin sekali terpilih lomba cerdas cermat seperti
biasa. Tapi, tidak enak rasanya melaporkan
keburukan teman kepada guru. Ia bukan anak yang suka mengadu. Bagaimana kalau
nanti Bu Aisyah tidak mempercayai laporannya? “Kami bersedia menjadi saksi bila
diperlukan,” tambah Rima, seakan memahami keraguan Dini. Dini makin bingung. Ia
belum pernah melihat Euis berbuat curang. Dalam hati, ia ingin membicarakan
masalah ini dengan Bu Aisyah. Tapi, yang paling membuat hatinya berat hanya
satu hal. Dini masih ingat betul masa-masa pahit saat Ayahnya menderita sakit
parah. Ayahnya yang bekerja sebagai tenaga pembukuan di kantor Pak Darma, harus
dirawat sampai berbulan-bulan di rumah sakit. Di perusahaan lain, mungkin
pegawai yang seperti itu akan dipecat atau dipotong gaji. Tapi gaji yang
diterima Ayah Dini tetap utuh. Malahan, Pak Darma sering menghadiahi Ayah
dengan obat-obatan herbal untuk mempercepat kesembuhannya. Dini teringat
bagaimana tadi kegembiraan terpancar di wajah Euis . Dini tidak mau merusak
semua itu. “Biarlah. Mungkin kali ini tidak apa-apa. Biar Euis senang,”
pikirnya dalam hati. “Toh selama ini Euis dan keluarganya juga sudah banyak
membahagiakan orang lain.”
***
Pagi-pagi sekali, Mimi dan Rima sudah datang di
sekolah. Mereka begitu bersemangat untuk menyaksikan lomba cerdas cermat ini.
Mereka segera naik ke lantai dua, yang sekarang sudah diubah menjadi semacam
aula. Aula itu sehari-harinya adalah ruang kelas 5A, B, dan C yang saling
terpisah. Jadi, di lantai dua itu sebenarnya hanya ada sebuah ruangan yang
besar dan memanjang, tetapi disekat menjadi tiga ruang terpisah yang sama
besar. Setiap kali dibutuhkan, sekat ruangan yang terbuat dari papanpapan kayu
bisa dibongkar dengan mudah. Di bagian depan aula, disusun tiga meja secara
sejajar. Masing-masing mempunyai sebuah kursi. Berhadapan dengan tiga meja
tadi, terdapat sebuah meja besar untuk para juri. Sementara bangku-bangku
penonton disusun rapi, memanjang ke belakang. Saat mereka berdua sampai di
dalam ruang lomba, beberapa bangku sudah terisi. Bangku-bangku yang berada di
dua barisan paling depan sengaja dikosongkan untuk tempat duduk para guru.Tak
lama kemudian, para peserta, juri, dan guru-guru memasuki ruangan lomba.
Sorak-sorai memenuhi ruangan tersebut.
Murid-murid dari kelas 5A, 5B dan 5C meneriakkan yel-yel untuk menyemangati
wakil dari kelas mereka masing-masing. Setelah sorak-sorai dan tepuk tangan
mulai mereda, Pak Guru kelas 6, yang menjadi salah satu juri lomba, mulai
memberikan pertanyaan. Pertanyaan itu berisi soal matematika. Para peserta
berusaha menghitung dengan cepat di kertas yang sudah disediakan di atas meja.
Saat Euis masih berkutat dengan hitungannya, wakil dari kelas 5B mengangkat
tangan kanannya. “Jawabannya adalah 75,” ucap anak laki-laki yang menjadi wakil
kelas 5B. Pak Guru terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk. “Ya, benar!”
jawabnya. Wakil dari kelas 5B itu tersenyum bangga. Para murid yang menonton
memberi tepukan tangan meriah. Sedangkan Guru lainnya menuliskan sebuah garis
pada kolom kelas 5B di papan tulis. Pertanyaan lain diajukan oleh juri yang
berbeda. Euis belum mengangkat tangannya
saat wakil dari kelas 5B mengangkat tangan, lantas menjawab pertanyaan dengan benar.
Satu poin lagi untuk kelas 5B. Perlombaan ini berjalan dengan seru dan
menegangkan. Wakil dari kelas 5B dan wakil dari kelas 5C bersaing ketat
memperebutkan juara. Nilai mereka saling mengejar di papan tulis. Sedangkan Euis
tertinggal sangat jauh. Mimi, Rima ,
Dini, dan murid-murid dari kelas 5A tercengang. Kelas-kelas lainnya sudah
mendapat belasan poin. Sementara Euis sama sekali belum mengangkat tangan untuk
menjawab. Mereka bertiga hampir meneteskan airmata, karena bisa melihat dengan
jelas bahwa Euis gemetar. Tangannya meremas ujung seragamnya. Keringat
bercucuran dari dahinya. Ia terlihat gugup karena selalu tertinggal dalam
menjawab. Aula yang dijadikan ruangan lomba kini dipenuhi dengan suara
berbisik-bisik. Sementara wakil dari kelas 5B dan 5C menjawab pertanyaan dengan
lantang. “Wah, kalau begini kelas 5A yang mendapat juara terakhir,” bisik
seorang murid yang duduk di depan Mimi dan Rima. “Iya. Padahal kelas 5A itu
kan, kelas unggulan,” tambah murid yang lain, sambil berbisik juga. Rima, Mimi, dan Dini yang duduk bersebelahan,
saling berpandangan dengan sorot mata cemas. Mereka hanya bisa berdoa dalam
hati. Para juri masih memberikan beberapa pertanyaan lagi. Euis berhasil
menjawab 3 pertanyaan dengan benar sebelum lomba ini berakhir. Tetapi, tentu
saja itu belum cukup untuk menyaingi poin yang sudah didapatkan oleh
kelas-kelas lain. Lomba pun berakhir. Para juri memberi selamat kepada ketiga
anak yang mewakili kelas mereka masing-masing. Semua tersenyum, tapi Euis terlihat
sangat murung. Dari tempat duduk mereka, Mimi,
Rima dan Dini yakin bahwa
sebenarnya Euis merasa malu sekali. Kepalanya menunduk dan kedua pipinya
memerah, seperti ingin menangis. Ketiga temannya tidak tahu harus berbuat apa.
Mereka merasa tidak enak hati, dan terlebih lagi mereka merasa sangat bersalah.
Sedih dan tertekan sekali rasanya, melihat Euis yang sebetulnya begitu baik,
hari ini terlihat menderita. Saat itulah rasa sesal yang begitu kental terasa
membanjiri rongga dada Mimi, Rima dan Dini. Ah, seandainya saja mereka mempunyai
keberanian untuk menegur Euis jauh sebelum hari ini. Seandainya saja mereka
bisa melawan perasaan sungkan karena telah banyak dibantu oleh keluarga Euis.
Pastilah Euis tidak perlu menanggung malu seperti itu. Euis diam-diam menyesali
kecurangannya. Seandainya saja ia jujur sejak awal, tentu wajahnya akan
terselamatkan dari rasa malu. Seandainya ia tidak terlena dengan kebanggaan
semu, tentu hatinya tidak akan tersayat oleh kesedihan.
.png)
By
22.59

Good Job👍
BalasHapusKeren
BalasHapus.👍👍👍
BalasHapusditunggu cerpen selanjutnya yah
BalasHapus